Sumsel.Manuver.co id, Palembang – Di tengah dominasi seni modern dan hiburan digital, seorang pelajar SMK Negeri 6 Palembang bernama Anisa Ramadhani atau yang akrab dikenal dengan nama panggung Nisa, memilih menekuni seni pantomim, sebuah seni pertunjukan yang mengandalkan gerak tubuh dan ekspresi tanpa kata-kata.
Siswi kelas XI Perhotelan ini awalnya tidak pernah membayangkan dirinya akan terjun ke dunia pantomim. Sebagai anak pertama dari dua bersaudara, Nisa dikenal sebagai pribadi yang menyukai berbagai bentuk kesenian. Namun saat itu, pantomim bukanlah bidang yang menarik perhatiannya.
Perjalanan Nisa mengenal pantomim bermula pada akhir tahun 2025 ketika dirinya mendapat ajakan dari Saleh, guru teater yang membimbing kegiatan seni di sekolahnya. Saat itu, Saleh menawarkan kesempatan kepada beberapa siswa untuk ikut terlibat dalam pertunjukan pantomim bertajuk “Musikku, Musimmu” yang digelar di Taman Budaya Sriwijaya.
Awalnya Nisa hanya mencoba tanpa memiliki ekspektasi apa pun. Namun pertemuan dengan Saleh menjadi titik awal yang mengubah pandangannya terhadap seni pantomim. Ketertarikannya semakin tumbuh ketika melihat para seniman pantomim yang tengah melakukan penggalangan dana untuk mengikuti Jambore Pantomim di luar daerah.
“Dari situ saya melihat ternyata ada seni yang bisa menyampaikan pesan tanpa harus berbicara. Cara mereka berekspresi dan bergerak sangat menarik. Saya jadi penasaran dan ingin belajar,” ujar Nisa.
Bagi Nisa, pantomim memiliki keunikan tersendiri dibanding cabang seni lainnya. Jika drama atau teater mengandalkan dialog, pantomim justru mengajak penonton memahami makna melalui bahasa tubuh dan ekspresi. Menurutnya, seni ini mampu menyampaikan keresahan, pesan sosial, hingga nilai-nilai kehidupan tanpa sepatah kata pun.
Menurut Nisa, daya tarik pantomim tidak hanya dirasakan oleh kalangan remaja dan orang dewasa. Seni yang mengandalkan gerak tubuh dan ekspresi ini juga mudah dipahami oleh anak-anak karena pesan yang disampaikan bersifat visual dan tidak bergantung pada dialog. Dengan begitu, pantomim dapat menjadi sarana yang efektif untuk mengenalkan dunia seni sejak usia dini sekaligus menumbuhkan kreativitas, imajinasi, dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar.
Meski terlihat mudah saat disaksikan, Nisa mengaku tantangan terbesar dalam pantomim justru terletak pada penguasaan gerak tubuh. Kelenturan tangan, bahu, kaki hingga kemampuan memainkan ekspresi menjadi latihan yang harus dilakukan secara konsisten.
“Ternyata susah. Kalau melihat orang lain tampil terlihat mudah, tapi saat dijalani sendiri butuh latihan yang serius. Tidak semua orang bisa langsung memainkan pantomim,” katanya.
Seiring berjalannya waktu, rasa malu yang sempat muncul ketika harus tampil dengan wajah dicat putih perlahan hilang. Bahkan pengalaman tampil di depan ratusan penonton pada pentas pertamanya menjadi salah satu momen berharga yang membangun kepercayaan dirinya.
Selain aktif berlatih, Nisa bersama rekan-rekan komunitas pantomim juga rutin tampil di kawasan Car Free Night (CFN) Kambang Iwak Palembang. Bagi mereka, kegiatan tersebut bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga ruang belajar dan bertukar pengalaman dengan para pegiat pantomim lainnya.
“Di CFN kami bisa tampil sekaligus belajar. Banyak seniman pantomim lain yang datang. Dari situ kami bisa melihat teknik dan gerakan baru yang belum pernah kami pelajari sebelumnya,” ungkapnya.
Aktivitas tampil di ruang publik juga menjadi salah satu cara komunitas mereka mengumpulkan dana. Hasil yang diperoleh digunakan untuk mendukung kebutuhan perjalanan dan akomodasi mengikuti berbagai kegiatan seni, termasuk agenda menuju Jakarta dalam waktu dekat.
Meski demikian, Nisa berharap para seniman pantomim tidak selamanya harus bergantung pada kegiatan mengamen untuk mengembangkan potensi mereka. Menurutnya, para pegiat seni membutuhkan ruang yang layak agar karya yang dihasilkan dapat diapresiasi masyarakat secara lebih luas.
Ia berharap Pemerintah Kota Palembang dapat memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan seni pantomim dengan menyediakan ruang pertunjukan, program pembinaan, hingga dukungan terhadap seniman muda yang membawa nama daerah ke tingkat nasional.
“Saya berharap ada tempat khusus untuk para seniman berkarya. Seni itu bukan sekadar hiburan atau pengamen. Seni harus dihargai karena tidak semua orang mampu melakukannya. Kalau mendapat dukungan, kami pasti lebih semangat untuk membawa nama Palembang ke tingkat yang lebih tinggi,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan dukungan, Nisa tetap optimistis menatap masa depan. Baginya, pantomim bukan hanya tentang pertunjukan, melainkan cara menyampaikan pesan kemanusiaan, membangun kreativitas, dan memperkenalkan wajah seni Palembang kepada masyarakat yang lebih luas.
Dengan semangat belajar dan kecintaannya terhadap dunia seni, Nisa menjadi salah satu contoh generasi muda yang membuktikan bahwa mimpi besar bisa berawal dari keberanian mencoba hal baru. Dari sebuah ajakan sederhana seorang guru teater, kini ia menapaki perjalanan sebagai pegiat pantomim muda yang membawa harapan bagi berkembangnya seni pertunjukan di Kota Palembang.(Red)




