DARI RIUH PERDEBATAN KE SALAM KEDEWASAAN Hasil Munas SWI ,Catatan Hati Agus Romadhon, Perwakilan Jawa Tengah dari Semarang

0
5

Sumsel.manuver.co.id Boyolali – Malam itu, Aula front one The Andia Boyolali,tempat Munas Sekber Wartawan Indonesia (SWI) panas. Bukan karena AC mati. Tapi karena ruang itu penuh suara. Penuh keresahan. Penuh cinta pada organisasi.dijalan Merdeka Timur Wonosari kemiri kec mojosongo kabupaten Boyolali Jawa Tengah (21/5/2026)

Musyawarah Nasional yang seharusnya berjalan khidmat, mendadak ricuh. Calon Ketua Umum Awalnya dua nama ,namun hanya satu nama calon yang hadir. Administrasi sebagian berkas masih pincang. Ada yang berseru “Ini tidak demokratis!”. Ada yang menjawab “Tapi ini darurat! Jangan biarkan SWI kosong tanpa nakhoda!”.

Aku, Agus Romadhon dari Semarang perwakilan Jawa Tengah duduk di antara 56 perwakilan delegasi se-Indonesia. Dadaku sesak. Di satu sisi, aku paham aturan. Di sisi lain, aku lihat mata kawan-kawan dari Aceh, sumatra,lampung ,banyuwangi, sulawesi tangerang ,,jakarta ,palembang ,palu dan peserta Delegasi dari kota kabupaten se-Indonesia yang lelah menempuh jarak ribuan kilometer hanya untuk memastikan SWI tetap hidup.

Perdebatan pun pecah. Bagai timses di panggung kampanye, suara saling sahut, argumen saling tusuk. Tapi anehnya, tak ada kebencian di sana. Yang ada hanya kegelisahan yang sama: “Bagaimana nasib rumah besar bernama SWI ini?”

Akhirnya, jalan tengah dipilih. Voting. Dengan lawan kertas kosong. Suara demokrasi yang jujur, meski pahit.

Ketika hasil dibacakan, ruang itu hening sesaat.

*H. Iskandar : 49 suara.*

*Abstain: 4.*

*Nama di luar konteks: 3.*

H. Iskandar terpilih sebagai Ketua Umum Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia.

Aku menutup mata. Bukan karena kecewa. Tapi karena lega. Karena di tengah riuh, akal sehat menang. Karena di tengah beda pendapat, persatuan tidak mati.

Lalu terjadi sesuatu yang membuat mataku basah.

Kami yang tadi bersitegang, berdiri. Saling mendekat. Saling mengulurkan tangan. Tidak ada dendam. Tidak ada kalah-menang. Yang ada hanya jabat tangan penuh kedewasaan.

“Pak Iskandar, kami titip SWI ya,” kataku sambil menggenggam tangannya.

“Siap, Mas Agus. Ini bukan kerja satu orang. Ini kerja kita semua,” jawabnya.

Di luar, terlihat jelas kesunyian malam muda mudi menikmati kopi diangkringan setengah redup lampu penghias ruangan,Tapi di dalam aula, hati kami terang. Dari ricuh menjadi rukun. Dari debat menjadi damai. Karena kami sadar, musuh kita bukan sesama wartawan. Musuh kita adalah kebodohan, ketidakadilan, dan diamnya kebenaran.

Malam itu, Jawa Tengah dan seluruh Indonesia pulang dengan satu rasa: *gembira*. Bukan karena menang, tapi karena SWI selamat. Karena kami membuktikan, wartawan Indonesia bisa bertengkar gagasan, tapi tetap bersaudara.

Selamat mengabdi, H. Iskandar.

Kami di belakangmu. Untuk SWI yang lebih kuat, lebih kritis, dan lebih beradab.

_“Di panggung demokrasi, suara boleh berbeda. Tapi salam persaudaraan tak boleh pudar.”_

( Agus romadhon) pulang dengan satu rasa: *gembira*. Bukan karena menang, tapi karena SWI selamat. Karena kami membuktikan, wartawan Indonesia bisa bertengkar gagasan, tapi tetap bersaudara.

Selamat mengabdi, H. Iskandar.

Kami di belakangmu. Untuk SWI yang lebih kuat, lebih kritis, dan lebih beradab.

_“Di panggung demokrasi, suara boleh berbeda. Tapi salam persaudaraan tak boleh pudar.”_

( siapapun boleh ikut naikkan )nara sumber Agus romadhon perwakilan Jawa Tengah

Mosok sich jateng 😁ditinggal sbg tuan rumah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini